BRAM

Saturday, April 13, 2013

Rasanya bumi ini sudah semakin sempit. Jarak dan waktu bisa lumat dikunyah-kunyah oleh kedigdayaan taring-taring teknologi. Informasi aneka peristiwa dari segala penjuru bumi dan iming-iming reklame begitu gampangnya menjejali batok kepala semua orang. Itu bisa terjadi dalam seketika bersamaan ke mana-mana dan di mana-mana. Mata angin tak lagi butuh kompas. Teknologi seakan telah menjelma menjadi berhala dan agama baru. Hanya bagaimanalah hati ini berhati-hati menelannya. 


Di depan televisi mulut Bram ternganga melongo. Dua matanya terbelalak, menyorot melotot bak akan meloncat lepas dari sarangnya. Tayangan-tayangan berita itu menancap tajam di benaknya. Entah setan alas dari mana sekonyong-konyong datang merasuki otaknya yang putih. Bram jadi penasaran bertanya-tanya haus jawaban. Siswa kelas 2 SMU yang pendiam ini tiba-tiba ingin banget mencoba mencicipi dan menikmati kayak apa sih rasanya menenggak narkoba, atau sabu, atau apapun sejenisnya. Apakah gurih, apakah asin, apakah manis, apakah kecut, apakah pedas, apakah pahit, apakah kenyal, apakah empuk, ataukah gabungan dari semua rasa itu ? 

Rasa ingin itu dengan hebat tak henti-henti menyerang hari-harinya. Apalagi saat ada yang menasehatinya agar jangan pernah sekali-sekali mencoba bersentuhan dengan narkoba dan sejenisnya. Rasa itu dipendamnya rapat-rapat di dalam dadanya, meski selalu saja gemuruh meronta-ronta menggebrak-gebrak di dalam. Bram sadar dan tahu pasti kalau keinginannya ini sangatlah sangat tidak baik, dan itu pasti berarti jelek. Namun sebuah keinginan rasa apalagi cita-cita adalah peristiwa biasa yang sangat manusiawi.

Dari berbagai sumber informasi yang ia dapatkan, dari nasehat guru-gurunya di sekolah, dari wejangan orang tuanya yang tergolong orang terpandang di lingkungannya tinggal, memang narkoba–sabu dan sejenisnya adalah barang haram-jadah yang tak habis-habisnya dilaknat dan dikutuk, terutama oleh para orang tua, polisi dan ulama. 

Namun demikian di mata Bram, toh aneka berita peristiwa yang berkaitan dengan pemanfaatan barang celaka itu tak pernah lenyap dari muka bumi ini. Narkoba selalu eksis berkibar. Ia seakan telah menjadi barang hebat yang sakti mandraguna, seksi penuh daya tarik. Mati satu tumbuh sejuta. Dinamika narkoba dengan berbagai macam romantikanya tak habis-habisnya menjadi buronan para pewarta. Peristiwanya selalu menjadi konsumsi pemberitaan yang sangat menarik dan pasti menjadi head-line. Koran maupun televisi senantiasa memburunya setiap ada peristiwa itu. Tentu selanjutnya media akan memberitakannya dengan jelas dan tegas secara detail , berulang-ulang dari peristiwa yang satu ke peristiwa lainnya, di lain tempat dan di lain waktu. 

Di setiap tayangan berita, sosok pengedar dan pemakainya ataupun kurir narkoba yang tertangkap petugas rata-rata adalah orang yang berpenampilan necis dan perlente. Hal ini turut memberikan andil memupuk subur tumbuhnya pertanyaan yang tak dimengerti oleh Bram. Keinginannya diam-diam setiap harinya lama-lama makin membara membakar dadanya. Perlahan-lahan pasti keinginannya menggerogoti pikirannya dan jundel di otaknya. Ia nampak bingung seperti tengah kehilangan dompetnya. Padahal sejujurnya ia belum pernah sama sekali melihat narkoba dan sejenisnya secara langsung kayak apa wujudnya. Apalagi bersentuhan fisik dengan barang jahanam itu. 

Setiap ada berita dan tayangan mengenai narkoba, semua itu senantiasa merampok perhatiannya. Ternyata pemakai narkoba adalah semua orang. Mereka berasal dari kalangan manapun. Menerobos batas usia maupun etnis. Ada remaja - siswa – mahasiswa – preman – pengangguran - guru – polisi – politisi – pilot - pegawai negeri - hakim - anggota dewan alias wakil rakyat – pejabat – public figure – artis – olahragawan – pemusik dan sebagainya, baik itu laki-laki maupun perempuan. Demikian juga dengan para pengedarnya yang dalam berita-berita dikabarkan sebagai jaringan internasional dan dapat meraup keuntungan yang sangat fantastis menggiurkan. 

Bram berpikir dengan caranya sendiri. Pikirannya titik pada satu kesimpulan : Kalau begitu, narkoba itu tentu barang yang enak, dan pasti enak sekali. Buktinya ; tak sedikit orang berani bertaruh nyawa untuk memperdagangkannya, bahkan ancaman hukuman mati saja tak mempan untuk menghentikan orang agar stop memproduksi, mengedarkan dan menyalahgunakan narkoba. Sebenarnya kayak apa sih rasanya menelan narkoba ? Pertanyaan ini semakin menggelitik pikirannya. 

Bram menggigit bibirnya sendiri. Dua matanya berkilat-kilat menerawang jauh entah ke mana. Pikirannya fokus pada pertanyaannya sendiri. Kayak apa sih sesungguhnya enaknya mengkonsumsi narkoba ? Tentulah pertanyaan ini tak akan mungkin bisa kujawab kalau tidak kucobanya sendiri, pikirnya yakin. Biarpun jawaban itu keluar langsung dari mulut si pemakai. Tapi bagaimana caranya aku bisa mendapatkan narkoba tanpa resiko ditangkap polisi ? Dimana aku bisa mendapatkannya ? Siapa penjualnya ? Bagaimana caranya bisa bertemu penjualnya ? Berapa harganya ? Terus di mana aku akan mengkonsumsinya ? Di rumah ? Atau di tempat tertentu rame-rame dengan sesama pecandu narkoba ? Tapi dimana dan siapa saja mereka ? Semua pertanyaan itu semakin menggembirakan hatinya untuk diam-diam mencoba berusaha mencari menemukan jawabnya.

Dikendalikan rasa penasarannya, Minggu pagi Bram sudah duduk-duduk di terminal. Ia sengaja datang ke situ dengan harapan bisa ditemui oleh seseorang pengedar narkoba, bincang-bincang sebentar lalu ditawari. Ia sudah sediakan uang secukupnya. Sukur-sukur kalau ada yang memberi gratisan sebagai perkenalan. Jika bukan pengedar setidak-tidaknya pemakainya. Bram mengambil posisi yang tepat agak menjauh dari kerumunan orang. Dengan maksud agar kalau ada yang menemuinya bisa bicara bebas tanpa kedengaran orang lain. 

Tak terhitung berapa orang yang sudah hilir-mudik lewat di depannya. Ada bocah penjual jasa semir sepatu mendekatinya. Iba juga Bram melihat anak sekecil itu sudah harus berpacu melawan debu-debu terminal. Diberinya selembar lima ribuan meski ia tak bersepatu. Datang juga mendekatinya seorang ibu pengemis menggendong bayinya. Selembar dua ribuan diberikannya. Lalu ada tukang koran, dibelinya satu, koran dibolak-baliknya barangkali ada berita tentang narkoba. Empat jam berlalu kaki Bram kesemutan. Tapi tak seorangpun yang datang menemuinya sesuai harapannya. 

Mungkin mereka ada di setasiun pikir Bram. Iapun ke sana. Hingga sore hari keadaannya sama saja seperti di terminal. Orang-orang lalu-lalang hanya nampak dengan kesibukannya sendiri-sendiri. Ternyata stasiun yang sekarang sudah berbeda dengan stasiun yang dulu. Masuk peron tidak mudah, kecuali calon penumpang yang sebenarnya. Penjual asongan saja diseleksi begitu ketatnya sampai perlu diharuskan pakai seragam tertentu. Pengantar hanya sampai di mulut peron. Tak nampak lagi calo-calo tiket yang bergentayangan. Kalau dulu dalam keadaan seperti ini ia yakin pasti sudah didekati oleh calo tiket. Atau penjual gambar-gambar porno yang diselipkan dalam buku. Barangkali saja, kalau itu terjadi, selanjutnya mungkin saja bisa berkembang pada keinginannya. Tapi itu rasanya tidak mungkin, pastilah jaringan narkoba tidak akan seterbuka kayak orang jual rokok. Begitu yang ada di otak Bram. Demikian pula ketika di pasar dan di mall, Bram tak dijumpai oleh seorangpun penarkoba.

Masih dalam rangka yang sama, hari minggu berikutnya sejak siang hingga senja Bram nongkrong di alun-alun pusat kota. Di situ ia ketemu Daniel teman sekolahnya tapi lain kelas. Daniel ditemani dua orang sebaya yang tak dikenalnya. Mereka saling bertegur sapa, ngobrol basa-basi ala kadarnya. Daniel sempat memperkenalkan dua orang temannya. Tak lama Daniel dan dua temannya meninggalkan Bram. Jam sudah menunjuk pukul setengah lima sore, Bram memutuskan untuk pulang saja, tapi sebelumnya ia mau melahap bakso dulu. 

Sejak pertemuannya dengan Daniel di alun-alun, hari-hari berikutnya di sekolah keduanya menjadi akrab. Mereka sering duduk dan ngobrol bersama. Di aula, di kantin dan di tempat parkir sepeda motor mereka seringkali terlihat akrab mengobrol. Banyak hal mereka bicarakan. Dari masalah sehari-hari di sekolah hingga soal-soal pribadi antara keduanya. Soal pacar tentu saja juga.

Sampai pada suatu ketika saat istirahat, harinya Sabtu di pojok parkiran halaman belakang sekolah. Keduanya asik mengobrol. Antara sengaja dan tidak sengaja topik pembicaraan hinggap pada berita televisi semalam. Dimana diberitakan adanya seorang bandar ganja yang ternyata masih duduk di bangku SMU seperti dirinya. 

“ Kok gak kapok-kapok ya ? Padahal sudah banyak yang ketangkap “, kata Bram spontan. 

“ Memang kalau menurut berita sudah banyak yang ketangkap, tapi yang tidak menjadi berita mungkin jauh lebih banyak Bram, karena tidak ketangkap “, kata Daniel sambil tersenyum. Keduanya lalu tertawa. 

“ Kayak apa ya ganja ? ”, tanya Bram sekenanya. 

“ O, ganja aja gak ngerti, kuno, ketinggalan jaman kamu Bram ! ”, kata Daniel mesam-mesem. 

Bram merasa tersinggung dianggap kuno ketinggalan jaman, tapi ia juga semakin penasaran. Naluri Daniel menangkap ekspresi wajah Bram seperti ada sesuatu yang misterius. 

“ Pingin nyoba ?! Gratis deh untuk kamu !“, sambung Daniel setengah serius seperempat bercanda selebihnya omong kosong. “ Kalau oke datang saja ke rumahku besok pagi. Aku besok sendirian di rumah. Papi-mamiku masih di Surabaya. Gimana Bram ?! ”, tandas Daniel ringan dan renyah tapi mengandung daya mistis yang tak nampak. 

Bram seperti diam, tapi sebenarnya ia tertegun dan berpikir keras. Sesaat keduanya terdiam bisu. Selanjutnya Bram tersenyum dan mengangguk, lalu menyambut uluran tus tangan Daniel. Susah-susah kucari kemana-mana, ternyata ketemunya malah di sekolah, batin Bram. Sesaat bel sekolah berbunyi pertanda pelajaran berikutnya akan dimulai. Keduanya bangkit berjalan seiring sejalan menuju kelas masing-masing sambil masih saling mengobral obrolan. 

Esok harinya jam setengah sepuluh pagi motor Bram sudah parkir di halaman belakang rumah Daniel. Di teras belakang telah menunggu Daniel dengan dua orang temannya. Bram langsung ingat, itu Yos dan Han yang dikenalnya tempo hari di alun-alun. Tapi siapa itu ada lagi dua cewek ABG ? Mereka menyambut kedatangan Bram dengan senyum. Sebuah senyum yang ramah manis tulus ikhlas hangat dan akrab. Mawar, itu kata yang keluar dari mulut cewek yang berambut panjang ketika menjabat tangan Bram. Yola, kata cewek berikutnya sambil menjulurkan telapak tangan kanannya. Basa-basi diantara mereka berlangsung tidak menarik. Mungkin mereka baru lebih suka saling menatap saja. Saling mencuri pandang memperhatikan lekuk-lekuk wajah dan bodi masing-masing.

Bram merasa canggung. Namun situasi ini tak berlangsung lama. Atas prakarsa Daniel–Yos dan Han komunikasi semuanya jadi lancar dan beres. Daniel berdiri memberi kode. Mereka pindah ke kamar Daniel yang cukup luas untuk ukuran remaja. Di hamparan karpet hijau semuanya duduk dengan tertib dan tenang. Posisi tubuh sesuai selera sendiri-sendiri. 

Ritual pesta segera dimulai. Sesajen telah siap dikeluarkan dari tas hitam kecil milik Yos. Biji-bijian dan lintingan komplit ada di situ. Bimbingan yang santun dan instruksi yang lembut dari Daniel telah dimengerti Bram dengan cepat dan cerdas. 

Alunan musik mulai membelai gendang telinga dan sanubari masing-masing. Obsesi mimpi-mimpi dan halusinasi perlahan-lahan merambah menyebar berserakan bergentayangan di atmosfir kamar Daniel. Menyusup ke dalam roh-roh yang ada di situ. Mengalir ke dalam aliran darah-darah muda yang menggelora. Menciptakan irama yang khas pada degup-degup jantung mereka. Bagai campuran berbagai aliran musik pop yang ada menjadi satu kesatuan yang rasanya belum ada istilahnya. 

Bram serasa terbang menembus awan melayang-layang di langit biru menggapai matahari pagi. Perlahan-lahan badannya terasa ringan. Seperti layang-layang naik-turun mengikuti desis angin yang berhembus. Tapi kepalanya mulai terasa berat. Namun begitu ia masih sempat lamat-lamat mendengar gelak-tawa kawan-kawannya. 

Disela-sela dentum suara bas yang bertubi-tubi, Bram telah menemukan pengalaman aneh dalam sentuhan rasa yang tak dimengertinya. Kepalanya bergoyang-goyang tanpa diperintah, menggeleng-geleng tanpa disuruh, kayak ondel-ondel Betawi di hari ulang tahun Jakarta. Dua matanya tidak tegas, nanggung, mau melek apa mau merem. 

Antara mimpi dan sadar Bram terpejam. Ia tak perduli lagi pada suara hiruk pikuk yang merongrong telinganya. Dirasakan seperti ada tangan meremas-remas pipinya, lalu menggoyang-goyang tubuhnya, lantas menarik-narik kakinya. Sesaat ada lagi yang menggoyang-goyang keningnya bahkan menampar-nampar pipinya. Bram semakin terpejam. Tarikan nafasnya panjang-panjang. 

Tiba-tiba musik berhenti. Telinganya menangkap suara-suara perintah dan ancaman yang keluar dari beberapa mulut. Bram enggan membuka matanya. Tapi ini harus dilakukannya dengan terpaksa. Dilihatnya samar-samar semakin banyak orang di sekelilingnya. Ia tak tahu siapa itu mereka yang datang. Tapi mengapa Yos dan Han telah diborgol oleh orang-orang itu ? Tapi mengapa juga Daniel telah dibekap dan didekap oleh orang-orang itu ? Dimana Mawar dan Yola ?

Bram mencoba menenangkan diri. Ia mulai sadar kalau ternyata tubuhnya juga telah didekap rapat oleh seseorang yang kekar. Seterusnya dalam dekapannya ia dipaksa untuk berjalan ke luar dari kamar dan masuk ke dalam mobil yang telah menunggunya di depan rumah Daniel. Ternyata Mawar dan Yola telah lebih dulu berada di dalam mobil. Juga Daniel – Yos dan Han.

Mobil meluncur kearah timur. Tak lama juga mobil berhenti. Bram dan kawan-kawannya diperintah turun. Ia mulai paham apa sebenarnya yang telah terjadi pada dirinya. Bram berjalan menunduk. Air matanya jatuh menetes di halaman Kantor Polisi. Ia dan kawan-kawannya digelandang menuju ruangan khusus. 

Kini tiba giliran pesta yang berbeda. Bram dan kawan-kawan telah menjadi mangsa santapan para pewarta. Dengan rakusnya kilatan blitz dan moncong kamera terus menguntitnya. Mereka adu cepat saling mendahului satu sama lain. Seperti sekumpulan serigala lapar berebut bangkai seekor kijang. 

Bram menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dua matanya tak sanggup lagi menangis. Karena airmatanya telah terkuras habis. Tangisnya kini bergeser pindah ke lubuk hatinya yang paling dasar. Di situ ada segumpal rasa sesal yang harus ia nikmati. Satu hal lagi, di matanya yang merah, hadir terhunus sebilah pedang rasa benci setengah mati kepada televisi dan koran.***(Wonosobo 4413)

Karya: Rasjid Daljatmo

1 komentar:

Yosafat Agape Christian Sirait said...

keren gann, salam kenal ya gan dari ane blogger batam.
gimana nih gan kalo mau kirim karya-karya kita kesini gan?
sekalian nanya kontaknya dong gan hihihih

Post a Comment