M A L I N G

Sunday, February 24, 2013


Pas rame-ramenya upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan di alun-alun, Mat Coleng menggelepar di selokan. Dihajar bertubi-tubi oleh jotos atos di kompleks perumahan MewahRumahIndah. Semua kepalan jotos itu milik sembilan orang pembantu laki-laki di RT 234. Tentu saja tak perlu diragukan lagi kwalitas jotosannya. Tanpa perhitungan mereka hambur-hamburkan emosinya.

Semua jotos tepat sasaran. Tak satupun yang meleset. Arahnya menuju ke empat titik. Perut – ulu hati – dagu dan wajah Mat Coleng. Ia ketangkap basah mencuri ayam-ketawa di rumah Pak Frans. Rumah yang lagi sepi hanya ditunggu oleh Monyol pembantu laki-lakinya. Karena pemiliknya Pak Frans beserta keluarganya sedang menghadiri ulang tahun cucunya di Jakarta.

Pagi itu posisi matahari kira-kira sudah enam puluh derajat , tapi Monyol masih enak-enakan molor. Barangkali ia merasa merdeka diberi kepercayaan oleh majikannya untuk menunggu rumah selama seminggu. Atau mungkin karena semalam ia kecapaian nonton dangdut sambil jogetan. Sehingga lampu teras belum sempat dimatikan. Apalagi untuk menyapu halaman, aneka sampah masih nampak bebas bertebaran di situ. Situasi dan kondisi Rumah Pak Frans yang begini ini sudah sangat dipahami oleh Mat Coleng.

Namun kiranya sial nasib Mat Coleng. Perhitungannya meleset. Dikiranya wilayah RT 234 akan sepi. Karena anggapannya semua warga akan berbondong-bondong ke alun-alun menghormati upacara detik-detik proklamasi. Ternyata tidak, terhadap upacaranya warga tak perduli, tapi hiburannya yang dicari-cari.

Mat Coleng memang gampang masuk halaman belakang rumah Pak Frans. Namun ironisnya Mat Coleng ketangkap basah justru oleh pembantu rumah sebelahnya, bukan oleh Monyol. Mestinya Monyol yang bertanggungjawab atas keamanan dan kebersihan lingkungan rumah Pak Frans. Baik itu ada Pak Frans maupun tidak.

Mat Coleng jadi bulan-bulanan bogem mentah. Kepalanya ditimpuk batu. Darah mengucur dari unyeng-unyengnya. Mulutnya merot mringis kesakitan. Tubuhnya diseret, lalu dilempar ke got yang mampet. Walhasil , darah segar bercampur pcerren menghias wajahnya. Tapi ia sangat tabah. Tak ada rintihan. Apalagi suara tangisan.

Mat Coleng pantang minta ampun. Ia takut ditertawakan. Menurutnya tertawa itu identik dengan rasa senang. Sehingga dikawatirkan kebablasan. Alasan menggebug bisa bergeser menjadi tidak jelas. Bukan lagi soal maling ayam. Tapi menggebug rame-rame demi kesenangan rame-rame. Ini yang dikhawatirkan. Ia menghindari itu.

Agar masalahnya tak ikut semakin bengkak, Mat Coleng tak sudi untuk menjerit minta ampun. Ia waswas kalau digebugin sambil ditertawakan. Ini akan lebih menyakitkan. Bisa gak selesai-selesai urusannya. Padahal sebenarnya kalau seumpama Mat Coleng pintar berpura-pura mati misalnya atau hampir mati, mungkin saja ada yang iba. Bahkan bisa jadi mereka ketakutan sendiri.

Hanya telungkup pasrah yang bisa ia lakukan. Melawan berarti ulo marani gebug. Mat Coleng tak mau itu. Wajahnya hitam lebam. Dua matanya sudah tenggelam. Tapi masih mampu mengeluarkan sorot api dendam yang tak terukur. Ia berusaha menghapal satu-persatu wajah pemilik jotos itu. Musti ada perhitungan cerdas. Mengalah untuk menang. Lain hari, suatu saat nanti , entah kapan dan dimana, pokoknya harus ketemu. Satu lawan satu, jangan main keroyokan , dada Mat Coleng mendidih. Terutama kepada yang disebut-sebut bernama Monyol.

Harga ayamnya memang tak seberapa dibanding harta kekayaan pak Frans. Tapi bagi Mat Coleng, kalau dijual itu sudah bisa menghidupi 3 nyawa di rumahnya. Paling tidak untuk sebulan. Namun bagi warga, persoalannya bukan itu. Mencuri apapun ya tetap mencuri. Tidak dibenarkan oleh norma yang manapun.

Tak ada yang mau melerai. Mungkin takut dianggap membela maling. Atau menganggap maling ketangkap adalah hiburan gratis yang perlu dinikmati.

“ Pateni..…pateni…..!, bunuh..….bunuh..….!, jantur..…jantur…!, moddyar…..moddyar….!”, kata Jaimo yang sejak awal tidak memanfaatkan kepalannya. Hanya mulutnya yang gemuruh.

Coleng belum menemukan wajah Jaimo. Orang ini menjadi catatan batin Coleng. Untuk yang banyak ngomong dan banyak memukul terutama Monyol, dengan gampang Coleng menghapal wajahnya. Ini tantangan dan penghinaan sekaligus kesewenang-wenangan, pikir Mat Coleng. Wajah Monyol terus diingat mata Mat Coleng. Besuk kalau aku sudah merdeka , kamu tak habisi, cita-cita Mat Coleng.

Sementara ada juga yang tanpa ngomong. Tapi dalam semenit uppercut-nya bisa tujuh kali menabrak dagu Mat Coleng. Bila dilihat dari perawakannya, Mat Coleng tak percaya kalau orang yang kurus-pucat itu ternyata rajin memberinya upper-cut. Ini mungkin tipe manusia pembunuh berdarah dingin. Orang macam ini di lingkungan preman sering disegani. Kadang malah dijadikan pemimpinnya. Aku harus waspada dia besok, pikir Mat Coleng.

Mat Coleng masih nglesot di selokan. Kepalanya lunglay tertunduk layu. Ia tak berani menatap sembilan orang yang berdiri mekangkang di hadapannya di atas got. Meski terlambat , tiba-tiba seorang satpam kompleks perumahan datang. Ia menyibak kerumunan. Berdiri lurus ia di atas Mat Coleng. Sorot matanya tak terlihat macam apa. Apa marah apa kasihan. Kerna ia pakai kacamata hitam.

“ Bawa ke kantor polisi “, katanya sambil nuding-nuding.

Mat Coleng sedih mendengarnya. Kerna ia belum punya
pengalaman di sana. Tapi ia juga berharap. Dari pada disini, beban pukulan bisa bertambah setiap detik, pikirnya. Kalaupun toh masih harus digebugi lagi sama pak pulisi, mudah-mudahan pak polisi pakai ukuran yang pas.

“ Dibawa pakai apa ? “, kata salah seorang.

“ Seret aja pake motor nih ada dadung “, kata yang lain.

Satpam diam. Dia bingung. Mau diboncengin pakai motor bisa resiko. Siapa tahu maling ayam ini tiba-tiba mencekik leher dari belakang. Nyalinya terganggu juga. Sebab bekerja sebagai satpam bukan karena cita-cita. Tapi karena nasib. Kebetulan lewat di situ pick-up bak terbuka habis mbongkar pasir. Apa boleh buat. Dengan ragu-ragu distopnya pick-up bak terbuka.

“ Tolong mas, bawa maling ke polsek “, katanya.

Supir mengangguk. Nampaknya terpaksa tidak berani menolak. Enam orang mengawal Coleng menuju Posek dipimpin satpam.

Mobil melewati alun-alun. Di situ lagi ramai peringatan detik-detik proklamasi. Coleng menangis. Satpam heran mengapa maling ini baru nangis sekarang, kok gak dari tadi-tadi waktu digebukin. Ternyata Coleng menangis bukan karena kesakitan. Ia terharu teringat cerita neneknya. Bahwa dulu kakeknya ikut berjuang di masa revolusi. Nyawanya disumbangkan untuk kemerdekaan. Mestinya aku ikut mengheningkan cipta. Mendoakan kakek dan kawan-kawannya. Tapi aku malah nyolong ketangkep. Mat Coleng semakin sesenggukan. Terbayang wajah isteri dan dua anaknya masih kecil-kecil di rumahnya.

“ Keterlaluan kamu. Ini hari yang sakral bagi Bangsa Indonesia. Kamu malah berbuat yang sangat-sangat tercela “, kata Pak Polisi dengan geram.

Coleng tertunduk bisu. Ia menggaruk-garuk darah yang mulai mengering di pelipisnya. Ada secuil rasa sesal di balik pelipisnya. Tapi itu sudah tidak berguna. Padahal menurutnya semua ini sudah dilakukannya melalui perhitungan yang matang. Karena selain melalui pengamatan yang cermat, juga sudah sesuai dengan petunjuk primbon yang dimilikinya. Aku tidak bermaksud menodai, apalagi tidak menghormati hari kemerdekaan, kata Coleng dalam hati.

Di kantor polisi Coleng semakin tak berkutik. Coleng langsung dikerangkeng sesuai prosedur. Menurut infonya, sejak dua bulan terahir Coleng memang masuk dalam target sasaran. Tetapi polisi tidak mau gegabah asal tangkap. Hari ini saksi dan barang bukti sudah lengkap ada. Tinggal mengorek lebih lanjut.

“ Terima kasih bapak-bapak telah membantu kami sebagai aparat. Jadi terbukti jelas ya pak, bahwa keamanan itu tidak hanya semata-mata menjadi tanggung jawab polisi. Tapi juga tanggung jawab masyarakat. Seperti yang telah bapak-bapak lakukan ini. Semua ini akan kami tindak lanjuti sesuai prosedur hukum yang berlaku. Kiranya bapak-bapak sudah bisa meninggalkan Coleng di sini. Untuk selanjutnya menjadi tanggung jawab kami, terima kasih “, kata Pak Polisi mantap kepada satpam dan kawan-kawan.

Dua pagi berikutnya Pak Frans pulang dari Jakarta. Rumahnya kembali ramai didatangi warga yang telah menangkap basah Mat Coleng.

“ Kalau gak ada saya , maling itu sudah mati digebugin warga pak “, kata Satpam kepada Pak Frans.

“Untung ada saya pak “, kata Monyol menyela, “ kalau tidak , mungkin maling itu sudah mendongkel pintu rumah dan menguras segala isinya “. Semua mata memandang ke arah Monyol.

“ Iya ya. Terima kasih bapak-bapak telah ikut menjaga rumah ini selama saya dan keluarga ada di Jakarta “, kata Pak Frans sambil menyilahkan semua tamunya menikmati oleh-olehnya dari Jakarta.

Sore harinya Pak Frans mendatangi kantor polisi. Wajahnya kelihatan murung. Ia percaya tak percaya Mat Coleng mencuri ayam-ketawanya.

“ Selamat sore pak “, kata Pak Frans kepada Pak Polisi.

“ Selamat sore, ada yang bisa saya bantu ? Bapak dari mana ? “, sambung Pak Polisi ramah.

“ Saya Frans pak, mau menanyakan masalah Mat Coleng yang tempo hari mencuri ayam di rumah saya, dan sudah diserahkan ke sini oleh tetangga yang menangkap basah “.

“ O ya pak, kebetulan bapak hadir ke sini. Ada beberapa hal yang perlu kami bicarakan dengan Pak Frans “, kata Pak Polisi mewawancarainya.

Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab Pak Frans terkait peristiwa itu. Lama-lama bosan juga ia ditanya macam-macam terus menerus. Hati kecilnya ingin bertemu Mat Coleng. Seperti apa dan bagaimana kondisinya saat ini.

“ Sebenarnya maksud saya datang ke sini begini pak “, kata Pak Frans.

“ Bagaimana ?! “.

“ Saya sama sekali tidak keberatan, dan ikhlas sepenuhnya ayam-ketawa saya diambil oleh Mat Coleng. Malah kalau perlu saya tambahi dengan ayam-alas saya pak. Sungguh pak. Saya mohon Pak Polisi bisa membebaskan dia pak “.

“ Lo…lo…lo.... kok begitu ?! “.

“ Iya pak “.

“ Dia kan maling yang sudah mencuri di rumah Pak Frans “.

“ Tapi saya kasihan sama Mat Coleng pak. Hanya soal ayam yang harganya tak seberapa, dia dan keluarganya jadi menderita. Kan kasihan pak. Saya merasa ikut berdosa pak “.

“ Ini bukan soal ikhlas dan kasihan Pak Frans. Ini soal pidana pak, soal hukum. Kami ini aparat penegak hukum yang harus melaksanakan penegakan hukum. Bukti dan saksi sudah lengkap pak. Barangkali juga ada kriminalitas dan pidana lain yang mungkin terkait dengan Mat Coleng pak. Ini perlu kami telusuri “.

“ Maaf pak, niat saya datang ke sini bukan untuk berdebat. Saya hanya mohon agar Mat Coleng dibebaskan. Karena saya merasa ikhlas, dan sama sekali tidak keberatan dia mencuri ayam-ketawa saya pak “.

“Jadi Pak Frans melindungi maling ?! Ini ada hukumnya juga pak “.

Pak Frans diam. Semangatnya untuk membebaskan Mat Coleng jadi mengkerret. Takut juga ia dianggap melindungi maling. Keinginannya untuk bertemu Mat Coleng di sel tahanan semakin menggelitik nuraninya. Tapi ia merasa lebih baik jangan sekarang. Ada hal lain yang juga penting harus kulakukan, pikirnya.

Keluar dari kantor polisi mobil Pak Frans berhenti di depan super market. Dibelinya sekantong beras sepuluh kilogram, telur ayam dua kilogram, kecap dua botol , sarden dua kaleng, gula kopi dan teh secukupnya, serta rokok kretek lima bungkus. Semua belanjaannya dimasukkan dalam satu dus, kecuali rokok yang dipisah. Ia langsung tancap gas menuju rumah Mat Coleng.

Tahu yang datang Pak Frans, isteri Mat Coleng gemetar ketakutan. Ia menangis menguras air matanya. Dari bibirnya terucap permohonan maaf berkali-kali. Ke dua anaknya yang masih ingusan turut meramaikan tangis ibunya. Banyak tetangga yang melihat kedatangan Pak Frans. Mereka diam-diam mengintip dengan caranya masing-masing. Pak Frans tahu ini. Rasanya risi juga diintip banyak orang. Hingga ia tak ingin lama-lama di rumah Mat Coleng.

“ Sudah………sudah…..….jangan menangis………..kasihan anak-anakmu……aku gak papa…soal ayam aku ikhlas….., ini sekedar untuk keperluan anak-anakmu…”, kata pak Pak Frans sambil menyerahkan dus belanjaannya dan dua lembar ratusan ribu.

Iapun terus pamit berlalu sambil bergantian memegangi ubun-ubun kedua anak kecil itu. Isteri Mat Coleng semakin tenggelam ke dalam tangisnya. Ia bersimpuh di lantai tanah rumahnya. Di luar angin bertiup menciumi wajah Pak Frans.

Besuk siangnya Pak Frans datang lagi ke kantor polisi. Ia masih ingin melunasi hajatnya menengok Mat Coleng yang meringkuk di sel tahanan. Pak Polisi geleng-geleng kepala melihat Pak Frans menyerahkan lima bungkus rokok kretek kepada Mat Coleng.

“ Terima kasih Pak Frans , saya sungguh-sungguh mohon maaf telah mencuri di rumah Pak Frans “, kata Mat Coleng sedih.

“ Sudahlah jangan bicarakan itu lagi, yang penting ini harus menjadi pelajaran berharga bagi kamu. Hadapi saja semuanya ini dengan penuh tanggung jawab. Anak dan isterimu akan baik-baik saja, kamu gak usah kuatir. Besok-besok kalau kamu sudah bebas temui aku “, kata Pak Frans.

Pikiran Pak Frans melayang-layang ke masa lalu. Ia teringat almarhum Pak Jumar ayah Mat Coleng yang telah menyelamatkan nyawanya dari kecelakaan tunggal yang dialaminya waktu itu.

Kabar mengenai Pak Frans yang ingin membebaskan Mat Coleng segera menyebar di lingkungannya. Isterinya ngomel-ngomel.

“ Bapak ini gimana sih….? Maling kok dilindungi ! Keluarga maling malah disantuni ! Maling ya maling pak ! Harus dihukum seberat-beratnya ! “.

“ Sudahlah “, kata Pak Frans lembut. “ Soal Mat Coleng sebagai maling, bapak jamin setelah ini dia pasti akan kapok dan sadar sesadar-sadarnya untuk menjadi orang yang baik “.

“ Itu kan urusannya dia. Mau jadi perampok apa mau jadi kiyai ya terserah dia to ! “.

Pak Frans diam. Ia tak mau terperosok lebih dalam adu mulut dengan isterinya. Yang penting aku jangan memicu kemarahannya lebih panas lagi, pikir Pak Frans. Pak Frans sangat memahami isterinya. Jangankan menyantuni keluarganya maling, menyumbang ke panti sosial saja ia harus sembunyi-sembunyi. Aku kehilangan setengah juta juga tak akan jadi miskin banget, nemu setengah juta juga tak akan jadi kaya raya banget. Mau berbuat baik saja kok susah , batin Pak Frans.

Malam harinya serombongan warga sekitar menemui Pak Frans. Mereka protes keras hampir saja demo. Terutama Pak Ketua RT 234 yang terus berpidato. Untung Pak Frans bisa menempatkan diri dengan bijak.

“ Maaf Pak Frans “, kata Pak Ketua RT 234. “ Kami protes keras. Kami ini sudah bersusah-payah menjaga keamanan dan ketenteraman di wilayah kita ini. E… malah Pak Frans tidak menghargai jerih payah kami. Saya tahu, Pak Frans orangnya baik. Tapi itu tidak mendidik pak ……….,“.

Pak Frans diam. Ia melihat dan menganalisa situasi agak sensitif. Ini sudah sumbu pendek, pikirnya. Ia tahu semuanya sangat semangat. Semuanya ingin dan akan ngomong menghujatnya. Pak Ketua RT saja masih koma belum titik, pikir Pak Frans.

“ Kami menghormati Pak Frans. Meski kami tidak sepaham dengan Pak Frans. Silahkan kalau Pak Frans mau membebaskan Coleng dari pidana pencurian ini. Wong itu ayam juga ayamnya Pak Frans kok. Silahkan kalau Pak Frans mau nyantuni keluarganya Coleng. Itu bagus dan baik. Itu urusannya Pak Frans. Tapi jangan halangi kami. Kami juga punya hak untuk menuntutnya ke pengadilan. Perbuatan Coleng sangat tidak menyenangkan bagi kami walaupun kejadiannya di rumah Pak Frans. Bisa saja lain waktu Coleng nyuri di rumah kami-kami ini. Mula-mula ayam, seterusnya bisa saja nyuri motor dan apa saja. Kesimpulannya Coleng telah meresahkan kami semua. Kami tetap akan menuntutnya. Dia pantas dihukum“.

Pak Frans memahami apa kata Pak Ketua RT. Tapi kali ini ia tidak ingin diam saja. Ia juga ingin bicara sebisa-bisanya. Biar tidak semata-mata mati kutu di hadapan para pembantu rumah tangga sekitarnya. Namun ia tidak tahu harus bicara mulai dari mana. Keinginannya bicara semakin menusuk-nusuk dadanya. Ahirnya terbuka juga mulut Pak Frans.

“ Pak Ketua RT dan bapak-bapak semuanya yang saya hormati. Saya terima kasih bapak-bapak telah datang ke sini. Dan ini sudah saya perkirakan. Pasti bapak-bapak tidak akan suka dengan apa yang telah saya lakukan dalam menyikapi Mat Coleng yang telah mencuri di rumah saya. Nah sekarang bapak-bapak sudah di sini semuanya, saya tidak perlu mendatangi bapak-bapak satu-persatu untuk menjelaskannya, terima kasih. Saya akan menjelaskannya mengapa itu saya lakukan ….. “, kata Pak Frans berhati-hati dan mengulur-ulur waktu agar emosi masing-masing bisa agak reda.

“ Saya juga hanya akan menirukan dan ngikuti saja apa yang tadi telah dikatakan oleh Pak Ketua RT. Bapak-bapak silahkan menuntut sesuai dengan keinginan bapak-bapak. Saya sama sekali tidak akan menghalang-halangi upaya itu. Apa yang telah saya lakukan semata-mata hanya karena dorongan kemanusiaan saja. Khusus antara manusia Frans dengan manusia Coleng yang saya anggap bisa mewakili seorang manusia lainnya yaitu almarhum bapaknya. Maaf lo bapak-bapak….. saya tidak berarti mengatakan bapak-bapak tidak punya perikemanusiaan. Saya pernah punya hutang nyawa kepada almarhum Pak Jumar bapaknya Mat Coleng. Bapak-bapak masih ingat kan ketika itu saya mengalami selip di bukit seribu. Sebagai manusia biasa saya hanya sekedar mengikuti dorongan hati nurani saya saja. Saya sudah berusaha mengikuti dorongan rasa kemanusiaan itu. Saya puas pak meskipun itu nanti mungkin tidak berhasil. Bapak-bapak boleh tidak sependapat dengan saya. Tapi bapak-bapak tidak boleh melarang saya untuk berpendapat. Sekali lagi saya mohon maaf “, kata Pak Frans dengan raut wajah penuh ikhlas dan pasrah.

Semuanya nampak diam. Pak Ketua RT hanya manggut-manggut. Di sampingnya Jaimo berbisik ke telinga Pak Ketua RT. Pak Ketua RT menyikut lengan Jaimo. Sikutan Pak RT ini diartikan oleh Jaimo kalau Pak Ketua RT setuju jika Jaimo ikut buka suara.

“ Kalau begitu begini saja “, kata Jaimo tegas. “ Masalah keamanan di RT 234 tetap kita sikapi seperti apa adanya. Tapi khusus untuk keamanan wilayah rumah Pak Frans biarlah itu menjadi tanggung jawab Pak Frans dan Monyol saja. Kami khawatir ada lagi kejadian seperti ini. Namun demikian, kewajiban Pak Frans sebagai warga yang baik, kalau-kalau RT kita membutuhkan dana, Pak Frans ya tetap selaku donatur-tetap “.

“ Sudah…. sudah…. selesai…. selesai…. cukup…. cukup….. bubar… bubar…… “, kata Pak Ketua RT dengan muka kecut. “ Kita sudah sama-sama mendengar tadi penjelasan Pak Frans. Terima kasih Pak Frans. Kami bisa memahami. Tapi kami juga tetap akan menuntut. Kami permisi dulu “, kata Pak Ketua RT menyalami Pak Frans terus keluar diikuti rombongannya.

Waktu terus berlalu. Ahirnya palu hakim memutuskan untuk mengirim Mat Coleng ke penjara selama empat bulan potong tahanan. Ruang pengadilan jadi gegap-gempita oleh sorak-sorai warga RT 234.

Di penjara Mat Coleng enjoy-enjoy saja. Hatinya selalu gembira. Sebab ia tak pernah kehabisan rokok. Lebih penting dari itu, ia tidak perlu kuatir keberadaan keluarganya di rumah. Dua anaknya dan satu isterinya dijamin pasti tidak akan mati kelaparan. Banyak teman dan pengalaman baru ia dapatkan di dalam penjara. Semua itu terekam dengan baik di otaknya. Iapun sempat termenung.

“ Ternyata aku lebih merdeka di penjara ini dari pada di rumah. Di rumah setiap waktu aku selalu diinjak-injak oleh keinginanku sendiri untuk membahagiakan anak-anakku dan isteriku. Di sini aku juga bisa berguru memperdalam segala macam ilmu. Ilmu apa saja bisa kupilih. Tinggal aku salah pilih apa benar pilih. Pilihanku benar-benar hanya akan ditentukan oleh kemerdekaanku memilih. Disini aku merdeka untuk mengajar dan menghajar diriku sendiri “.

Hingga pada suatu pagi yang cerah. Mat Coleng disalami oleh para sipir dan narapidana lainnya. “ Selamat, mulai hari ini kamu sudah merdeka “, kata sipir menepuk bahu Coleng. Seperti terpaksa ia harus meninggalkan penjara. Ada perasaan sedih yang tak dimengertinya. Juga beban rindu kepada anak dan isterinya di rumah.

Mat Coleng ingat semua pesan Pak Frans. Aku harus ke sana sekarang juga, katanya kepada dirinya sendiri. Dua kakinya semakin mendekati tujuan. Ia dengar suara kokok ayam-ketawa dan ayam-alas bersahut-sahutan begitu merdunya. Diliriknya lampu teras tidak menyala. “ Pasti Pak Frans ada di dalam. Mungkin Monyol juga ada “, pikirnya.

Coleng langsung nyelonong lewat pintu samping. Garasi belakang nampak kosong. Coleng simpulkan pemilik rumah pasti lagi pergi. Tapi kenapa pintu dapur terbuka separo. Ia yakin Monyol ada di dalam. Ini kesempatan emas untuk balas dendam, pikir Coleng. Ia ingin Monyol segera keluar.

“ Permisi “, kata mulut Coleng sambil mengepalkan tangan.

Ia selangkah di depan pintu dapur. Mulutnya terkatup rapat. Tarikan napasnya panjang-panjang. Tak ada jawaban. Diulanginya lagi kata permisi, juga tak ada jawaban. Hanya suara kokok ayam-ketawa yang menjawab.

Coleng tak ingin kedatangannya ini tak berguna. Tanpa sadar ia dekati ayam-ketawa dan ayam alas yang kurungannya bersebelahan. Sangat lancar ia keluarkan sekaligus dua unggas itu. Dengan tenangnya Coleng melangkah sambil menggendong dua hewan itu keluar.

Di jalan Coleng berpapasan dengan Jaimo. Coleng sudah tekad bulat untuk nekad. Sekarang satu lawan satu. Kamu macem-macem kamu mati aku masuk penjara lagi, gak papa, kata hati Coleng. Coleng melirik sambil mengangkat dagunya. Ternyata Jaimo diam saja. Sebab di kepala Jaimo tumbuh subur rasa kagumnya kepada Pak Frans, “ baik bener orang itu, telah menepati janjinya “, kata ubun-ubun Jaimo. Coleng-pun melenggang pulang dengan merdeka.*** ( Wsb 300113 )
Posted By:Rasjid Daljatmo

0 komentar:

Post a Comment