RW

Friday, January 25, 2013

Di kampung nama bekennya Pak RW. Singkatan dari Raharjo Wibowo. Kebetulan Pak RW ini juga Ketua RW 100. Asal-muasalnya ia terpilih menjadi Ketua RW hanya gara-gara namanya, yang kalau disingkat sudah berinisial RW. Sehingga warga tak mau repot-repot menentukan siapa yang akan dipilih menjadi Ketua RW. Sebab memang bukan perkara yang gampang mencari figur Ketua RW. Bukan karena persaratannya yang susah. Tapi memang karena penggemarnya yang gak ada. Semua itu terjadi diawali keisengan dan kejailan yang provokatif oleh segelintir anak-anak muda. Jadilah Pak RW menjadi Ketua RW 100. Sebenarnya enggan juga ia menjadi Ketua RW. Tapi ia tak kuasa menolak tekanan halus dari warga. Itu terjadi 8 tahun yang lalu.

Sore ini Pak Ketua RW merasa puas dan bangga. Pasalnya di luar dugaannya , antusiasme warga memperingati HUT Proklamasi tahun ini terbilang sukses. Kampung jadi meriah. Merah putih berkibar di seantero RW 100. Walau dengan dana yang terbatas, semangatnya sungguh luar biasa. Dari lomba untuk anak-anak sampai untuk kakek-kakek semuanya dipandegani oleh anak-anak muda. Orang-orang tua duduk manis saja. Tinggal menikmati hasil kerja keras anak-anak muda. Dari lomba yang bersifat umum hingga yang bernuansa agamis, semuanya berjalan lancar. Dari pagi – siang – sore bahkan hingga malam. Selama hampir seminggu ini wilayah RW 100 tak pernah sepi. Ini menjadi kenikmatan tersendiri bagi semua warganya. Terutama bagi anak-anak muda. 


Pak Ketua RW banyak menaruh harapan kepada potensi anak-anak muda itu. Mereka para muda sebagai tunas bangsa telah menghargai jasa pahlawannya. Jiwa nasionalismenya nampak terlihat di moment peringatan HUT RI tahun ini. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, melempem. Pak Ketua RW yakin ; diantara mereka kelak akan ada yang menjadi sosok pemimpin besar. Tidak mustahil , nantinya akan ada yang menjadi kepala desa, apa camat, apa gubernur , apa bupati, apa walikota, apa ketua partai politik, anggota DPR, atau bahkan mungkin menjadi presiden. Tapi setidak-tidaknya , suatu saat nanti , diantara mereka pasti ada yang akan menjadi Ketua RT dan Ketua RW, pikir Pak Ketua RW.

Namun sayang disayang. Tak berselang lama usai kemeriahan HUT RI, kebanggaan Pak Ketua RW terhadap anak-anak muda jadi ternoda. Ibarat panas setahun diporak-porandakan oleh hujan setengah hari. Pak RW selaku Ketua RW merasa malu yang tak terbayangkan. Malu kepada dirinya sendiri. Malu kepada masyarakat warganya sendiri. Gara-gara di telinganya hinggap informasi adanya 2 orang anak gadis warganya yang hamil serempak sebelum nikah. Ironisnya , keduanya tergolong pemudi yang kalem dan lemah gemulai. Mereka di kampung tidak pernah ada masalah. Sedangkan anak-anak gadis yang sepertinya bringasan dan tidak punya unggah-ungguh malah tidak hamil.

Tidak hanya masalah hamil diluar nikah saja yang merobek-robek kebanggaan Pak Ketua RW. Satu per-satu warganya melapor adanya kejadian kemalingan. Yang ayam, yang bebek, yang angsa, yang makanan di warung, bahkan sampai sandal jepit di teraspun banyak yang dimalingi. Hati Pak Ketua RW miris serasa diiris-iris. Dia semakin prihatin. Setiap pagi gampang ditemukan botol minuman keras berserakan di sembarang tempat di wilayah kekuasaannya. Malah katanya, pernah ada yang menemukan kondom bekas bercampur dengan kupon togel. Lengkaplah sudah kebobbrokan ini, batin Pak Ketua RW prihatin.

Kampung kita kondisinya sudah rusak berat bu, kata Pak Ketua RW kepada isterinya. Bu RW cuma senyam-senyum mendengarnya. Karena kemaren-kemaren masalah itu sudah didengarnya di forum ngrumpi ibu-ibu. Bapak ketinggalan jaman, batin bu RW. Pak Ketua RW terus saja nrocos berkobar-kobar.

“ Ini tidak bisa ditolerir bu. Apalagi dibiarkan berlarut-larut. Harus ditemukan akar permasalahannya. Apakah etika dan norma sosial di sini sudah sekarat ya ? Mungkin orang tua yang salah. Mungkin anak muda yang kebangeten. Mungkin orang tua sudah tak punya wibawa. Mungkin para ketua RT juga sudah salah. Kurang pengawasan terhadap lingkungannya. Atau bisa jadi… , mungkin aku sendiri sudah dianggap lenyap tidak ada “. Pak Ketua RW limbung. Isterinya kembali senyum-senyum.

Pak Ketua RW mencoba merekonstruksi kembali ingatannya ke masa lalu. Sebelum menjadi Ketua RW seperti apa. Seingatnya , kejadian hamil di luar nikah di wilayah RW 100 sepanjang jaman belum pernah terjadi. Sekarang kejadian itu meledak bak bom waktu. Sedihnya justru terjadi di masa kepemimpinannya. Inilah yang bikin Pak RW selaku pribadi maupun sebagai Ketua RW jadi tersiksa batin.

Malam harinya Pak Ketua RW tak bisa tidur. Wajahnya buram dan murung meratapi nasib aib yang menimpa wilayahnya.
“ Ini jelas mencoreng mukaku sendiri “ , pikir Pak Ketua RW penuh tanggung jawab. “ Mengapa dan bagaimana sebenarnya semua itu bisa terjadi ? Yaaa… biarlah, yang sudah biarlah sudah. Cukup. Cukup menjadi sejarah yang payah. Titik. Yang penting bagaimana ke depan mengantisipasinya. Sejarah brengsek jangan lagi terulang. Sebodoh-bodoh keledai tak kan terantuk pada batu yang sama “.
Pak Ketua RW mencoba mencari jalan keluarnya. Ia berusaha membuat solusinya. Hingga jam tiga pagi konsep-konsep itu baru sempat disimpannya di otaknya. Pak Ketua RW tersenyum lega. Setelah itu kedua matanya baru bisa dipejamkan.

Esok harinya Pak Ketua RW bangun kesiangan. Bangun tidur ia langsung nongkrong di meja kerjanya. Ia minta segelas kopi. Bolpoin di tangan kanannya menari-nari di atas kertas HVS, sementara dahinya berkerut.

“ Sudah jam delapan lho pak “, kata bu RW yang sejak tadi mengamati suaminya.
“ Hari ini bapak prei dulu bu, barusan aku sudah sms pamit ke Pak Bejo “.
“ Memangnya bapak mau ada acara apa pak ? “.
“ Ini darurat bu, mumpung masih anget nyantol di otak “.
“ Memang apanya yang nyantol ? Kok gawat ! “.
“ Ini lho, bahan rapat medadak untuk nanti malem “.
“ Rapat apa si pak ? Dimana ? “.
“ Rapat musyawarah terbatas. Membahas Rancangan Peraturan Tata Tertib Dan Ancaman Pelanggaran Terhadap Tata Tertib RW 100 “, kata Pak Ketua RW puas.
“ O…., rapatnya dimana ? “.
“ Ya di sini , minimal 7 orang maksimal 10 orang“.
“ Walah pak.., hobbinya kok ropat-rapat terus. Agustusan tempo hari saja sebagian uang belanja sudah nyangkut ke sana pak. Ini tanggal tua pak. Mbok di tempat lain. Memangnya digaji berapa sih jadi Ketua RW ?! Kok ya gak kapok-kapok jadi Ketua RW ?! Salah sedikit jadi besar – kalau benar besar dianggap wajar. Kan masih banyak orang lain yang bisa jadi Ketua RW ! “ , kata bu RW sambil berlalu menyeret sapu ijuk ke dapur.

Pak Ketua RW pura-pura tak mendengarnya. Ia kembali konsentrasi ke meja kerjanya. Hingga jam sebelas lebih konsep itu baru kelar. Ia tinggal menunggu Sapto anaknya pulang dari sekolah SMK Informatika. Perlunya untuk diperintahnya ngetik di computer dan memperbanyaknya. Tak lupa Pak Ketua RW sms kepada para ketua RT dan ketua pemuda setempat sebagai undangan rapat nanti malam .

Jam setengah Sembilan rapat baru bisa dimulai. Pak Ketua RW menarik napas panjang, lalu katanya ;

“ Bismillahirrahmannirrahim. Assalamualaikum warahmatulla hi wabarokatuh. Bapak-bapak yang saya hormati. Semoga Allah Swt Tuhan Yang Maha Esa senantiasa meridhoi serta memberkahi hidup dan kehidupan kita bersama. Amin ya robbal alamin. Alhamdulillah dan terima kasih bapak-bapak telah meluangkan waktu dan bisa hadir semuanya. Saya ucapkan selamat datang dan mohon maaf undangannya mendadak lewat sms. Adapun agenda kita malam ini adalah membahas situasi dan perkembangan kondisi terkini yang ada di wilayah kita. Untuk menyikapinya saya berinisiatif menawarkan konsep tertulis kepada bapak-bapak sebagaimana telah bapak-bapak terima. Mohon maaf bapak-bapak sekalian. Saya tidak berniat mau gagah-gagahan. Ini semua atas nama tanggungjawab saya. Konsep saya ini saya susun semampu saya. Tentu saja masih ada banyak hal yang perlu disesuaikan dengan sikon dan selera disini.
Saya berharap musyawarah kita malam ini senantiasa mendapatkan bimbingan Tuhan Yang Maha Esa. Dan bisa menghasilkan keputusan hasil musyawarah yang terbaik untuk kampung kita tercinta ini. Untuk itu marilah musyawarah ini kita awali - kita buka bersama-sama dengan membaca basmallah . Bismillah hirrahmannirrahim. Selanjutnya secara berurutan nanti dari pak Ketua RT 1 sampai 5 dan yang terahir nanti ketua pemuda saya mohon dengan hormat agar memberikan tanggapan dan masukannya. Bebas saja, ini demokrasi. Itu barangkali bapak-bapak beberapa hal penting telah saya sampaikan.
Namun sebelumnya, forum ini saya skores dulu agar kita tidak spaneng. Sekalian sambil menunggu sekedar hidangan. Wassalamu’alaikum warahmatulla hi wabarokatuh “, Pak RW mengahiri pidato awalnya terus membuka bungkus rokoknya.

Ditunggu-tunggu hidangan belum juga muncul. Pak Ketua RW masuk ke dalam rumah. Hidangan memang sudah tersedia , tinggal mengeluarkan. Hanya saja Pak Ketua RW tidak menemukan isterinya disitu. Demikian juga Sapto anaknya entah kemana. Ahirnya Pak Ketua RW sendiri yang mengeluarkan hidangan itu.

“ Bapak-bapak yang saya hormati, skores saya cabut. Monggo yang pertama Pak Ketua RT 1 menyampaikan pendapatnya “.
“ Terima kasih pak. Ini langsung saja. Sekilas saya sudah membaca rencana tata-tertib ini. Tapi saya sebagai Ketua RT 01 harus bermusyawarah dulu dengan warga RT 01. Saya belum bisa komentar sekarang . Terserah nanti pendapat warga. Akan saya laporkan secepatnya. Terima kasih “.

Ternyata ketua RT 02 - 03 - 04 dan 05 mengekor saja apa yang disampaikan oleh ketua RT 01. Ketua RT 03 pamit tidak hadir. Katanya lagi mencret-mencret. Tapi ada yang mewakili. Sekarang giliran ketua pemuda menyampaikan pendapatnya.

“ Terima kasih. Selaku ketua pemuda saya berpendapat sama dengan bapak-bapak ketua RT. Tetapi sebagai anak muda - secara pribadi saya tidak setuju dengan beberapa rencana ketentuan dalam tata-tertib ini. Karena terlalu berat dan terlalu mengikat kepada anak-anak muda. Saya yakin pak, kalau yang melanggar tata-tertib ini nanti putra-putranya orang-orang tertentu, bisa saya pastikan tidak akan ada yang berani bertindak. Juga pertanyaan saya pak ; siapa nantinya yang akan menjadi ekskutornya ? Pak Ketua RW sendiri ? Saya yakin pak RT-pun belum tentu mau ! Ini persoalan baru pak. Saya kuatir aturan ini hanya akan menjadi macan kertas saja pak. Tapi ini pendapat pribadi saya lho. Saya mohon maaf. Terima kasih “.

Sampai dengan rapat bubar , tidak terjadi adanya kesepakatan yang signifikan. Kesimpulannya nol. Masih harus menunggu. Menunggu nanti kalau sudah dibicarakan dengan semua warga melalui RT masing-masing. Begitu juga pemuda. Baru akan mengadakan rapat khusus dulu dengan para kaula muda.

Hari berganti hari minggu berganti minggu. Laporan dari masing-masing RT dan pemuda belum juga diterima Pak RW. Timbul pro-kontra. Baik di kalangan orang-orang tua maupun pemuda. Dampaknya sungguh menghebohkan. Ada 2 surat kaleng dan banyak sms kontra diterima Pak Ketua RW. Isinya tidak setuju secara halus. Ada juga yang menghujat Pak Ketua RW secara kasar. Ide Pak Ketua RW akan memberlakukan Peraturan Tata Tertib RW 100 lengkap dengan ancaman sanksinya dianggap sewenang-wenang.
“ Sudahlah pak, berhenti saja jadi Ketua RW. Sudah 8 tahun, sejak Sapto masuk SD. Serahkan ke Pak Kadus. Biar Pak Kadus yang ngrangkep jadi Ketua RW. Pak Kadus kan punya bengkok. Ketua RW dapat apa sih pak ? Pokoknya aku tidak setuju kalau ada rapat-rapat lagi disini “, kata bu RW tegas.

Pak Ketua RW menghadapi hari-hari yang berat. Serangan datang dari eksternal maupun internal. Bersamaan dengan itu , ternyata masih ada juga warga yang datang. Mereka melaporkan adanya kehilangan. Malingnya sudah diketahui. Tapi tidak ada yang berani menangkap. Apalagi mengadili. Karena ternyata si maling juga warga setempat.

“ Laporkan ke Polisi saja !!! “, kata bu RW sengak mendahului mulut Pak Ketua RW.

Demikian pula ketika ada laporan adanya tamu bermalam tanpa lapor. Juga pemuda apel ke pemudi hingga tengah malam. Bu RW yang menjawab.

“ Laporkan saja ke pak RT. Yang punya warga itu pak RT. Pak Ketua RW hanya koordinatornya RT-RT. Pak Ketua RW tidak memiliki warga. Di RW 100 sekarang tidak ada aturan resmi yang mengharuskan begini… , melarang begitu…. Terus mau disuruh apa pak Ketua RW ?! Dasarnya apa ? Saya aja isterinya gak berani nyuruh-nyuruh Pak Ketua RW begitu “.

Karena sudah dijawab seperti itu oleh Bu RW , mulut pelapor jadi bungkam juga. Tentu dengan rasa jengkel kepada Bu RW. Bu RW semakin berani. Lebih jauh ia masuk ke lingkaran wilayah suaminya selaku Ketua RW. Pasti saja semua itu semakin menambah runyamnya situasi di RW 100. Puncaknya , suka atau tidak suka Pak Ketua RW 100 terpaksa harus mengundurkan diri. Kerana tanpa sepengetahuannya, berkas-berkas dan peralatan RW 100 diserahkan secara sepihak oleh bu RW kepada Pak Kepala Dusun. Hari berikutnya entah akal-akalannya siapa tidak jelas , sebagian warga berbondong-bondong memaksa Pak Kadus harus menjadi Ketua RW 100 untuk sementara.

Belum genap setengah bulan merangkap sebagai Ketua RW 100, Pak Kadus sudah angkat tangan lempar handuk. Alasannya klasik mengingat kesehatannya. Dari lima ketua RT tak seorangpun yang sanggup menggantikannya .

“ Kok jadi RW, jadi RT aja terpaksa , sudah repot kayak begini , maaf saja “, kata semua ketua RT yang hendak ditunjuk.
Ahirnya Kepala Desa mengambil langkah jitu. Untuk sementara Ketua RW 100 ditugaskan kepada salah seorang perangkat desa yang kebetulan tinggal di RW 100. “ Ini patent, sampai ada Ketua RW 100 difinitif “, kata Pak Kades tegas.

Kini disepakati akan diadakan pemilihan Ketua RW secepatnya. Warga diminta untuk menemukan calon Ketua RW yang tepat dan bisa diterima oleh semua pihak. Namun ternyata persoalannya tak semudah teorinya. Tak seorangpun warga yang bersedia menunjuk calon maupun dicalonkan sebagai Ketua RW.

“ Terserah sana - siapapun - yang penting ada RWnya . Biarlah itu jadi urusannya Pak RT sama Pak Kadus “, kata beberapa warga yang punya bakat untuk menjadi provokator.

Dua kali sudah diadakan rapat. Mayoritas warga tak ada yang hadir. Untuk menanggulangi kekosongan calon , Pak Kades menyarankan agar ditempuh musyawarah-khusus. Yaitu rembugan dengan semua unsur lembaga dan tokoh masyarakat para tetua yang ada di RW 100. Karena tak ingin masalah ini berlarut-larut, ba’da lohor Pak Kades turun tangan sendiri memimpin rapatnya di Balai Desa. Ternyata musyawarah juga berlangsung alot dan mbulet. Ahirnya dengan segala liku-liku dan romantikanya, diputuskan untuk dicoba kembali mencalonkan Pak RW. Karena menurut Pak Kepala Desa , pengunduran dirinya tempo hari itu lebih beraroma tekanan dari isterinya.

“ Itu inkonstitusional. Tetapi kita juga harus sabar mendatanginya. Membujuknya lagi secara persuasive, agar beliau bersedia melanjutkan jabatannya “, tandas Pak Kades.
Bapak-bapak setuju ? ” , tanya Pak Kades.
Semuanya koor menjawab setuju.
“ Sekali lagi. Bapak-bapak setuju ? “.
“ Setujuuuuu !!! Yang penting ada RWnya“.
“ Penting juga saya tanyakan kepada bapak-bapak. Apakah bapak-bapak juga sanggup menjelaskan dan mempertanggungjawabkan rencana keputusan kita ini kepada segenap warga RW 100 ?! “, tanya Pak Kades.
“ Setujuuuuuu…..!!! “.
Pak Kades menutup rapat dengan wajah berseri-seri.

Malam itu juga Pak Kades memimpin kunjungan kerjanya ke rumah Pak RW. Rombongannya meliputi para ketua RT dan para tokoh masyarakat pimpinan lembaga yang ada di RW 100. Total jenderal jumlahnya 12 orang. Agar tidak merepotkan dapur Pak RW disana, disepakati agar pak Kadus membawa sendiri gula kopi teh dan jajanan sebagai hidangannya. Nanti di sana tinggal minta air panasnya saja.

Kehadiran rombongan Pak Kades kali ini membuat Bu RW tak lagi sevokal seperti kemaren-kemaren. Malah nampak seperti sangat menikmati . Merasa terhormat dan tersanjung. Kerana diminta langsung oleh semua tokoh formal dan non formal yang ada agar suaminya bersedia kembali duduk menjadi Ketua RW 100 .
Pak RW tak banyak komentar terhadap permintaan itu. Meski ia juga belum mengangguk sepenuhnya. Hanya saja pendapat Bu RW yang agak mencengangkan Pak Kades dan rombongannya.

“ Tapi ada satu permintaan saya pak Kades “ , tandas Bu RW.
“ Apa Bu ? Jangan angel-angel ya Bu ? “.
“ Saya minta diadakan pilihan langsung oleh seluruh warga yang berhak memilih. Kalau dulu kan ditunjuk dan dipaksa. Meski nanti musuhnya kotak kosong. Pokoknya kayak pemilu itu dah ! Pokoknya bagaimanapun juga , kami ingin mendapatkan kepastian yang meyakinkan, apakah memang warga masih menghendaki suami saya jadi Ketua RW. Kalau cuma bapak-bapak yang menghendaki , itu sama dengan bo’ong pak “, kata Bu RW memaksa.

Dengan segala rasanya , ahirnya permintaan itu terpaksa dipenuhi. Pilkawe dilaksanakan minggu pagi di Balai Desa. Hasilnya sungguh menakjubkan. 93 % dari kartu suara yang masuk, pilihannya mendukung. Sisanya golput , tidak mendukung , dan ada juga yang kartunya dirusak. Warga bersorak-sorak gemuruh. Balai Desa gegap-gempita kayak bendungan pecah. RW 100 telah punya Ketua RW lagi. Nama dan orangnya masih tetap yang dulu, Pak RW.

Mendapati fakta dan kenyataan dirinya terpilih secara telak dan mutlak, Pak RW serasa melayang-layang ringan seperti dilahirkan kembali. Tak sadar Pak RW mencucurkan air mata haru. Sapu tangan di tangannya hampir saja tak mampu menampung basah itu. Ia spontan sujud sukur. “ Ternyata surat kaleng dan semua sms itu tak lebih hanya sekedar kebiadaban yang keji saja “, bisik hati Pak RW. Bu RW nampak kelihatan marem. Ia menebar senyum ke mana-mana. Sayangnya disitu tak nampak Sapto anaknya yang memang abstain tidak datang tanpa alasan. “ Jangan-jangan dia oposisi “, batin Bu RW.

Ternyata Sapto tidak ke mana-mana. Ia di rumah saja sejak pagi. “ Males “, itu jawabnya ketika ditanya ibunya mengapa tidak ikut pilkawe berbaur di Balai Desa. Tak ingin Sapto dibombardir dengan pertanyaan berkepanjangan , ia masuk kamar.

Malamnya Pak RW semangat di meja kerjanya. Ia membenahi berkas-berkas dan arsip-arsip aneka data yang kocar-kacir di situ. Sekarang sudah nampak rapi. Babak baru sebagai Ketua RW 100 segera akan dimulai. Sejarah pasti akan mencatatnya, pikirnya. Ia mulai membayangkan apa yang akan menjadi visi dan misinya ke depan. Jangka pendek maupun jangka panjang. Jangka pendek targetnya adalah masih berniat menggolkan Peraturan Tata Tertib yang telah susah-susah dibuatnya beberapa waktu yang lalu. Ini untuk payung hukum semua pihak. Dalam rangka menciptakan tata kehidupan bersama yang aman dan nyaman di wilayah RW 100, pikirnya. Ia akan mereshuffle susunan kepengurusan RW 100 yang lama. Biar organisasi lebih lincah dan dinamis, ia rencanakan 30 % berasal dari golongan kaum muda. Pak Kades sudah menyuport. Seksi keamanan telah dipilihnya yang tinggi tegap berkumis tebal. Calonnya sudah dihubungi. Seksi sosial akan dipilihnya orang yang entengan. Sedapat mungkin semua pengurus akan diseleksi dari orang yang entengan tapi cerdas dan bertanggung jawab. Kerna Pak RW sadar betul bahwasanya duduk menjadi pengurus RW adalah bagian dari pengabdian kepada nusa dan bangsanya. Pilihan harus jeli dan cerdas , batin Pak RW. Jam dinding menunjuk hampir pukul sembilan.

“ Bapak “, kata Sapto yang datang tiba-tiba.
“ Ya , ada apa ? “.
“ Mau matur pak “.
“ Ada apa ? “.
“ Sapto mau berhenti sekolah pak “.
“ Hah…?! Trus mau apa ? Kerja ?! “.
“ Ya “.
“ Dimana ? “.
“ Belum tahu pak “.
“ Nglindur kamu “.
“ Sapto harus segera menikah pak ”.
“ Apa ? “.
“ Marni sudah isi 3 bulan pak , maafkan Sapto pak “.

Pak Ketua RW cuma mlongo terpaku diam. Diam sediam-diamnya. Dunia seperti gelap. Kursi jabatan Ketua RW terasa membara. Terbayang wajah Pak Jasmidun warga RT 03 yang wajib menjadi besannya. Tak ada kata-kata lagi dari Pak Ketua RW 100. Kemarahan tak akan menggugurkan kandungan Marni. Beliau langsung mengeluarkan mesin tik antiknya. Dibuatnya surat pengunduran dirinya selaku Ketua RW 100. Besuk akan diantarnya sendiri. Kepada Pak Kadus tembusan Pak Kades.

Sapto tertunduk layu. Pikirannya semrawut. “ Baru jadi Ketua RW sudah sok sibuk kemaruk jabatan “, batin Sapto. *** ( Wonosobo, 221212 )
Posted By: Rasjid Daljatmo

0 komentar:

Post a Comment