Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

BRAM

Saturday, April 13, 2013

Rasanya bumi ini sudah semakin sempit. Jarak dan waktu bisa lumat dikunyah-kunyah oleh kedigdayaan taring-taring teknologi. Informasi aneka peristiwa dari segala penjuru bumi dan iming-iming reklame begitu gampangnya menjejali batok kepala semua orang. Itu bisa terjadi dalam seketika bersamaan ke mana-mana dan di mana-mana. Mata angin tak lagi butuh kompas. Teknologi seakan telah menjelma menjadi berhala dan agama baru. Hanya bagaimanalah hati ini berhati-hati menelannya. 

KUBURAN

Kuburan tua itu telah kehilangan wibawanya. Kesan angker dan singup yang dulu bisa bikin bulu kuduk meremang, sekarang sudah pudar sirna dan hilang. Hilang ditelan temaram lampu-lampu neon jalanan yang gemerlapan. 

Jalan itu dulu sempit, kini semakin lebar memuai menghimpit demarkasi pekuburan. Tak siapapun mampu menghadang terjangan syahwat pembangunan. Kuburan tua itupun tak berkutik dicekik perluasan kota yang semakin menggurita. Yang nampak sekarang hanyalah hamparan batu nisan berjajar di atas tanah merah kering-kerontang dicabik-cabik putaran roda jaman. 

M A L I N G

Sunday, February 24, 2013


Pas rame-ramenya upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan di alun-alun, Mat Coleng menggelepar di selokan. Dihajar bertubi-tubi oleh jotos atos di kompleks perumahan MewahRumahIndah. Semua kepalan jotos itu milik sembilan orang pembantu laki-laki di RT 234. Tentu saja tak perlu diragukan lagi kwalitas jotosannya. Tanpa perhitungan mereka hambur-hamburkan emosinya.

Semua jotos tepat sasaran. Tak satupun yang meleset. Arahnya menuju ke empat titik. Perut – ulu hati – dagu dan wajah Mat Coleng. Ia ketangkap basah mencuri ayam-ketawa di rumah Pak Frans. Rumah yang lagi sepi hanya ditunggu oleh Monyol pembantu laki-lakinya. Karena pemiliknya Pak Frans beserta keluarganya sedang menghadiri ulang tahun cucunya di Jakarta.

INDAH PADA WAKTUNYA…

Tuesday, February 5, 2013

Siang itu terik matahari bersinar dengan terangnya bahkan sampai menusuk ubun-ubunku,,aku datang kekampus dengan tergopoh-gopoh,,batu kerikilpun kulalui bahkan tak sadar aku menabraknya..tanahpun semakin masuk kedalam karena pijakan kakiku yang tertancap dalam ketanah itu..langkah kakikupun semakin ku percepat..aku melihat jam tangan yang melekat disebelah tangan kiriku ,,,tinggal 5 menit lagi,, sebentar lagi aku terlambat,berharap sampai kedalam kelas tak terlambat lagi dan tepat waktu.batinku berbisik dengan yakin…

RW

Friday, January 25, 2013

Di kampung nama bekennya Pak RW. Singkatan dari Raharjo Wibowo. Kebetulan Pak RW ini juga Ketua RW 100. Asal-muasalnya ia terpilih menjadi Ketua RW hanya gara-gara namanya, yang kalau disingkat sudah berinisial RW. Sehingga warga tak mau repot-repot menentukan siapa yang akan dipilih menjadi Ketua RW. Sebab memang bukan perkara yang gampang mencari figur Ketua RW. Bukan karena persaratannya yang susah. Tapi memang karena penggemarnya yang gak ada. Semua itu terjadi diawali keisengan dan kejailan yang provokatif oleh segelintir anak-anak muda. Jadilah Pak RW menjadi Ketua RW 100. Sebenarnya enggan juga ia menjadi Ketua RW. Tapi ia tak kuasa menolak tekanan halus dari warga. Itu terjadi 8 tahun yang lalu.

Sore ini Pak Ketua RW merasa puas dan bangga. Pasalnya di luar dugaannya , antusiasme warga memperingati HUT Proklamasi tahun ini terbilang sukses. Kampung jadi meriah. Merah putih berkibar di seantero RW 100. Walau dengan dana yang terbatas, semangatnya sungguh luar biasa. Dari lomba untuk anak-anak sampai untuk kakek-kakek semuanya dipandegani oleh anak-anak muda. Orang-orang tua duduk manis saja. Tinggal menikmati hasil kerja keras anak-anak muda. Dari lomba yang bersifat umum hingga yang bernuansa agamis, semuanya berjalan lancar. Dari pagi – siang – sore bahkan hingga malam. Selama hampir seminggu ini wilayah RW 100 tak pernah sepi. Ini menjadi kenikmatan tersendiri bagi semua warganya. Terutama bagi anak-anak muda.