Rasanya bumi ini sudah semakin sempit. Jarak dan waktu bisa lumat dikunyah-kunyah oleh kedigdayaan taring-taring teknologi. Informasi aneka peristiwa dari segala penjuru bumi dan iming-iming reklame begitu gampangnya menjejali batok kepala semua orang. Itu bisa terjadi dalam seketika bersamaan ke mana-mana dan di mana-mana. Mata angin tak lagi butuh kompas. Teknologi seakan telah menjelma menjadi berhala dan agama baru. Hanya bagaimanalah hati ini berhati-hati menelannya.
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
KUBURAN
Kuburan tua itu telah kehilangan wibawanya. Kesan angker dan singup yang dulu bisa bikin bulu kuduk meremang, sekarang sudah pudar sirna dan hilang. Hilang ditelan temaram lampu-lampu neon jalanan yang gemerlapan.
Jalan itu dulu sempit, kini semakin lebar memuai menghimpit demarkasi pekuburan. Tak siapapun mampu menghadang terjangan syahwat pembangunan. Kuburan tua itupun tak berkutik dicekik perluasan kota yang semakin menggurita. Yang nampak sekarang hanyalah hamparan batu nisan berjajar di atas tanah merah kering-kerontang dicabik-cabik putaran roda jaman.
Jalan itu dulu sempit, kini semakin lebar memuai menghimpit demarkasi pekuburan. Tak siapapun mampu menghadang terjangan syahwat pembangunan. Kuburan tua itupun tak berkutik dicekik perluasan kota yang semakin menggurita. Yang nampak sekarang hanyalah hamparan batu nisan berjajar di atas tanah merah kering-kerontang dicabik-cabik putaran roda jaman.
Label:
Cerpen
M A L I N G
Sunday, February 24, 2013
Pas
rame-ramenya upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan di
alun-alun, Mat Coleng menggelepar di selokan. Dihajar bertubi-tubi oleh
jotos atos di kompleks perumahan MewahRumahIndah. Semua kepalan jotos
itu milik sembilan orang pembantu laki-laki di RT 234. Tentu saja tak
perlu diragukan lagi kwalitas jotosannya. Tanpa perhitungan mereka
hambur-hamburkan emosinya.
Semua jotos tepat sasaran. Tak
satupun yang meleset. Arahnya menuju ke empat titik. Perut – ulu
hati – dagu dan wajah Mat Coleng. Ia ketangkap basah mencuri ayam-ketawa
di rumah Pak Frans. Rumah yang lagi sepi hanya ditunggu oleh Monyol
pembantu laki-lakinya. Karena pemiliknya Pak Frans beserta keluarganya
sedang menghadiri ulang tahun cucunya di Jakarta.
Label:
Cerpen
INDAH PADA WAKTUNYA…
Tuesday, February 5, 2013
Siang
itu terik matahari bersinar dengan terangnya bahkan sampai menusuk
ubun-ubunku,,aku datang kekampus dengan tergopoh-gopoh,,batu kerikilpun
kulalui bahkan tak sadar aku menabraknya..tanahpun semakin masuk kedalam
karena pijakan kakiku yang tertancap dalam ketanah itu..langkah
kakikupun semakin ku percepat..aku melihat jam tangan yang melekat
disebelah tangan kiriku ,,,tinggal 5 menit lagi,, sebentar lagi aku
terlambat,berharap sampai kedalam kelas tak terlambat lagi dan tepat
waktu.batinku berbisik dengan yakin…
Label:
Cerpen
RW
Friday, January 25, 2013
Di
kampung nama bekennya Pak RW. Singkatan dari Raharjo Wibowo. Kebetulan
Pak RW ini juga Ketua RW 100. Asal-muasalnya ia terpilih menjadi Ketua
RW hanya gara-gara namanya, yang kalau disingkat sudah berinisial RW.
Sehingga warga tak mau repot-repot menentukan siapa yang akan dipilih
menjadi Ketua RW. Sebab memang bukan perkara yang gampang mencari figur
Ketua RW. Bukan karena persaratannya yang susah. Tapi memang karena
penggemarnya yang gak ada. Semua itu terjadi diawali keisengan dan
kejailan yang provokatif oleh segelintir anak-anak muda. Jadilah Pak RW
menjadi Ketua RW 100. Sebenarnya enggan juga ia menjadi Ketua RW. Tapi
ia tak kuasa menolak tekanan halus dari warga. Itu terjadi 8 tahun yang
lalu.
Sore ini Pak Ketua RW merasa puas dan bangga. Pasalnya
di luar dugaannya , antusiasme warga memperingati HUT Proklamasi tahun
ini terbilang sukses. Kampung jadi meriah. Merah putih berkibar di
seantero RW 100. Walau dengan dana yang terbatas, semangatnya sungguh
luar biasa. Dari lomba untuk anak-anak sampai untuk kakek-kakek
semuanya dipandegani oleh anak-anak muda. Orang-orang tua duduk manis
saja. Tinggal menikmati hasil kerja keras anak-anak muda. Dari lomba
yang bersifat umum hingga yang bernuansa agamis, semuanya berjalan
lancar. Dari pagi – siang – sore bahkan hingga malam. Selama hampir
seminggu ini wilayah RW 100 tak pernah sepi. Ini menjadi kenikmatan
tersendiri bagi semua warganya. Terutama bagi anak-anak muda.
Label:
Cerpen
Subscribe to:
Posts (Atom)