Profil Penulis Pramoedya Ananta Toer

Friday, January 25, 2013

Pramoedya Ananta Toer [1925-2006]
Pramoedya ananta toerPengarang prosa Indonesia paling terkemuka, kandidat pemenang Hadiah Nobel Sastra. Ia dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925, sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya berdagang nasi. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer" sebagai nama keluarganya. Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia. Ia kemudian berproses dan meraih sukses di Jakarta. Sebelum saat wafatnya, ia menetap di Bojong, Bogor.

Ia menulis novel, cerpen, esai, biografi, serta menerjemahkan sejumlah karya sastra dunia ke bahasa Indonesia. Pramoedya merupakan sastrawan Indonesia paling dikenal di dunia internasional dan dianggap salah seorang penulis poskolonial yang patut diperhitungkan, terutama melalui tetralogi novel Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca (1980-1987) yang mula-mula ditulisnya dalam pembuangan di Pulau Buru pada masa kekuasaan rezim kuasi-militer Soeharto. Tetralogi itu menceritakan proses kebangkitan nasionalisme Indonesia yang dijalin dengan sebuah kisah cinta antar-ras yang berakhir tak bahagia dengan mengambil model seorang tokoh pergerakan yang dilupakan dalam sejarah, Tirto Adhi Suryo.
Bersama sejumlah intelektual kiri lainnya, Pramoedya diasingkan ke Pulau Buru dan dipenjarakan selama 14 tahun (1965-1979) tanpa proses pengadilan menyusul apa yang disebut-sebut sebagai pemberontakan Partai Komunis Indonesia yang gagal pada akhir 1965. Militer juga menyita rumahnya serta membakar koleksi buku daan delapan manuskripnya yang belum diterbitkan. Sejumlah cendekiawan Barat menulis bahwa pemberontakan itu sebetulnya merupakan persaingan antar fraksi di tubuh militer. Ratusan ribu (bahkan ada yang menyebut angka jutaan) simpatisan komunis dan orang-orang tak bersalah di berbagai daerah di Indonesia mengalami penyiksaan, pembunuhan, dan pemenjaraan setelah peristiwa itu. Bahkan hingga kini mereka masih kehilangan hak-hak sipilnya.
Karya-karya Pramoedya yang seluruhnya berjumlah sekitar 60-an buku telah diterjemahkan ke dalam sekitar 40 bahasa di seluruh dunia, termasuk bahasa Yunani, Rusia, Swedia, Spanyol, Vietnam, dan Ceko, tetapi ironisnya banyak di antaranya justru dilarang beredar di negeri sendiri. Pengalaman buruknya selama menjadi tahanan politik dituangkan dalam dua jilid autobiografi, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995 –diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai Mute’s Soliloquy, 1999). Penghargaan internasional yang pernah diterimanya antara lain Hadiah Wertheim dari Belanda, Hadiah Magsaysay (Filipina, 1995), Hadiah Fukuoka (Jepang, 2000), Le Chevalier de l’Odre des Arts et des Letters (Prancis, 2000), dan penghargaan kebebasan berekspresi Uni Penulis Norwegia (2004). Ia juga banyak menerjemahkan karya sastra dunia, antara lain Tikus dan Manusia (Novel John Steinback, 1950, diterbitkan ulang 2003), Kembali pada Cinta Kasihmu (novel Leo Tolstoy, 1950, diterbitkan kembali 2003), Perjalanan Ziarah yang Aneh (novel Leo Tolstoy, 1954), Kisah Seorang Prajurit Sovyet (novel Mikhail Sholokov, 1954), Ibunda (novel Maxim Gorky, 1956, diterbitkan kembali 2000), Asmara dari Rusia (novel Alexander Kuprin, 1959), dan Manusia Sejati (novel Boris Polewoi, 1959). Pramoedya wafat di Jakarta dalam usia 81 tahun pada 2006 dengan meninggalkan sebuah karya yang tak selesai, Ensiklopedi Kawanan Indonesia. Menanggapi wafatnya Pramoedya, novelis terkemuka Inggris asal Pakistan yang juga editor jurnal New Left Review, Tariq Ali, menulis dalam Counter Punch, 2 Mei 2006, “Kematian Pramoedya Ananta Toer di Jakarta, 30 April 2006, adalah kehilangan besar bagi kesusastraan dunia. Dialah intelektual Indonesia terkemuka, sekaligus penulis fiksi yang jenius. . .”
Di antara beberapa penghargaan yang pernah diraih Pram adalah:
  • Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988
  • Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989
  • Wertheim Award, "for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people", dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995
  • Ramon Magsaysay Award, "for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognation of his illuminating with briliant stories the historical awakening, and modern experience of Indonesian people", dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995
  • UNESCO Madanjeet Singh Prize, "in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence" dari UNESCO, Perancis, 1996
  • Doctor of Humane Letters, "in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom" dari Universitas Michigan, Madison, AS, 1999
  • Chancellor's distinguished Honor Award, "for his outstanding literary archievements and for his contributions to ethnic tolerance and global understanding", dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999
  • Chevalier de l'Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique, Paris, Perancis, 1999
  • New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000
  • Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepang, 2000
  • The Norwegian Authors Union, 2004
  • Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004
  • Anggota Nederland Center, ketika masih di Pulau Buru, 1978
  • Anggota kehormatan seumur hidup dari International PEN Australia Center, 1982
  • Anggota kehormatan PEN Center, Swedia, 1982
  • Anggota kehormatan PEN American Center, AS, 1987
  • Deutschsweizeriches PEN member, Zentrum, Swiss, 1988
  • International PEN English Center Award, Inggris, 1992
  • International PEN Award Association of Writers Zentrum Deutschland, Jerman, 1999
Di antara karya-karyanya adalah:
  • Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947
  • Kranji–Bekasi Jatuh (1947), fragmen dari Di Tepi Kali Bekasi
  • Perburuan (1950), pemenang sayembara Balai Pustaka, Jakarta, 1949 (dicekal oleh pemerintah karena muatan komunisme)
  • Keluarga Gerilya (1950)
  • Subuh (1951), kumpulan 3 cerpen
  • Percikan Revolusi (1951), kumpulan cerpen
  • Mereka yang Dilumpuhkan (I & II) (1951)
  • Bukan Pasarmalam (1951)
  • Di Tepi Kali Bekasi (1951), dari sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada 22 Juli 1947
  • Dia yang Menyerah (1951), kemudian dicetak ulang dalam kumpulan cerpen
  • Cerita dari Blora (1952), pemenang karya sastra terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Jakarta, 1953
  • Gulat di Jakarta (1953)
  • Midah Si Manis Bergigi Emas (1954)
  • Korupsi (1954)
  • Mari Mengarang (1954), tak jelas nasibnya di tangan penerbit
  • Cerita Dari Jakarta (1957)
  • Cerita Calon Arang (1957)
  • Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958)
  • Panggil Aku Kartini Saja (I & II, 1963; bagian III dan IV dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
  • Kumpulan Karya Kartini, yang pernah diumumkan di berbagai media; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
  • Wanita Sebelum Kartini; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
  • Gadis Pantai (1962-65) dalam bentuk cerita bersambung, bagian pertama triologi tentang keluarga Pramoedya; terbit sebagai buku, 1987; dilarang Jaksa Agung; jilid kedua dan ketiga dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
  • Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964); dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
  • Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963)
  • Lentera (1965), tak jelas nasibnya di tangan penerbit
  • Bumi Manusia (1980); dilarang Jaksa Agung, 1981
  • Anak Semua Bangsa (1981); dilarang Jaksa Agung, 1981
  • Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981)
  • Tempo Doeloe (1982), antologi sastra pra-Indonesia
  • Jejak Langkah (1985); dilarang Jaksa Agung, 1985
  • Sang Pemula (1985); dilarang Jaksa Agung, 1985
  • Hikayat Siti Mariah, (ed.) Hadji Moekti, (1987); dilarang Jaksa Agung, 1987
  • Rumah Kaca (1988); dilarang Jaksa Agung, 1988
  • Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, (1995); dilarang Jaksa Agung, 1995
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995); dilarang Jaksa Agung, 1995
  • Arus Balik (1995)
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1997)
  • Arok Dedes (1999)
  • Mangir (2000)
  • Larasati (2000)
  • Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005)
Bebarapa penulis lain pun banyak mengangkat profil dan pemikiran-pemikirannya, serta mengabadikannya dalam sebuah buku, di antaranya:
  • Pramoedya Ananta Toer dan Karja Seninja, oleh Bahrum Rangkuti (Penerbit Gunung Agung)
  • Citra Manusia Indonesia dalam Karya Pramoedya Ananta Toer, oleh A. Teeuw (Pustaka Jaya)
  • Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, oleh Eka Kurniawan (Gramedia Pustaka Utama)
  • Membaca Katrologi Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer, oleh Apsanti Djokosujatno (Tera Indonesia)
  • Pramoedya Ananta Toer dan Manifestasi Karya Sastra, Daniel Mahendra, dkk (Penerbit Malka)
[Sumber: Ensiklopedia Sastra Dunia]

1 komentar:

Dasman Djamaluddin said...

DI BALIK NOVEL PRAM YANG GAGAL MERAIH NOBEL KESUSATRAAN

Minggu pagi, 30 April 2006, Pramoedya Ananta Toer, salah seorang pujangga besar Indonesia, menghela nafas terakhirnya pada pukul 08.55 WIB, di usia 81 tahun dan jenazah disemayamkan di kediamannya Jalan Multikarya II No.26, Utan Kayu Jakarta Timur.

Pram sebutan khasnya sehari-hari, lahir di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925. Secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia . Pram telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.

Nama aslinya sebagaimana diungkapkan dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul “Cerita Dari Blora,” adalah Pramoedya Ananta Mastoer. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer.”

Mengangkat kembali masalah Pram ke permukaan bukan dikarenakan saya adalah alumnus SMA di Kabupaten Blora, tetapi lebih dikaitkan karena seorang penulis dan peneliti yang menetap di Amsterdam, Joss Wibisono di dalam Majalah Tempo edisi 7,13 Oktober 2013 mengungkap kembali kenapa para Sastrawan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, di mana Novel Pram berjudul “Tetrologi Buru,” yang dinominasikan meraih Nobel Kesusastraan bisa gagal.

Dalam hal ini Joss Wibisono mengutip Benedict Anderson, Guru Besar Universitas Cornell di New York, Amerika serikat dalam artikelnya “The Unrewarded” (Yang Tak Teranugerahi) di “New Left Review 80, “edisi Maret-April 2013. “Kelemahan panitia Nobel Kesusastraan di Stockholm, Swedia,” ujar Ben Anderson adalah kunci utamanya.”Terabaikannya Asia Tenggara jelas merupakan kelemahan dan sekaligus titik buta panitia Nobel,” tegasnya.

Diakui Ben Anderson, para Sastrawan Asia memang pernah meraihnya, semasa Rabindranath Tagore dari India. Tetapi India pada tahun 1913 itu masih jajahan Inggris. Belum sepenuhnya mewakili India. Permasalahan penterjemahan juga menjadi kendala utama. Terjemahan Novel Pram, “Tetrologi Buru,” ke dalam bahasa Inggris, roh kesusatraannya hilang begitu saja. Boleh dikatakan terjemahannya jelek. Kesimpulannya bangsa Indonesia yang juga merupakan negara jajahan Belanda, tidak bernasib sama dengan negara-negara jajahan lain. Negara Prancis, Inggris dan Spanyol telah melakukan lobi untuk sastrawan negara bekas jajahan mereka.Tetapi Belanda?

Tetapi perkembangan di Indonesia ada yang mengkaitkan bahwa pemerintah Indonesia tidak bersungguh-sungguh mendukung Novel Pram dikarenakan masa lalu Pram yang diduga terlibat Partai Komunis Indonesia sehingga dibuang ke Pulau Buru. Memang Novel “Tetra Buru”, atau “Tetra Pulau Buru,” atau “Tetralogi Bumi Manusia,” adalah nama dari empat Novel karya Pram yang terbit dari tahun 1980 hingga 1988. Novel ini pernah dilarang peredarannya oleh Jaksa Agung Indonesia selama beberapa masa. Menurut saya, sebaiknya ketika Novel Pram dinominasi, pemerintah mendukung hal tersebut. Saya berkesimpulan, banyak faktor yang mempengaruhi mengapa Novel Pram gagal meraih Nobel Kesusatraan, baik dari jeleknya penterjemahan sebagaimana diungkap Ben Anderson, kemauan negara penjajah Belanda melobi Komite Nobel hingga dukungan pemerintah Indonesia sendiri terhadap Novel Pram.(http://dasmandj.blogspot.com)

Post a Comment